Bapak, Ibu.

by - Agustus 28, 2019



Ayah
            Saya tuliskan beberapa halaman kisah yang penuh makna. Merupakan sandiwara dalam akhir sayonara kehidupan terhadap kasih sayang yang tidak akan pudar sepanjang masa. Bapak di balik tirai senja ini, izinkanlah putra keduamu mengenang masa lalu. Mengenang dengan iringan kerinduan yang semakin bertalu. Semakin merindu ketika gerombolan burung camar dalam perjalanan pulang ke sarang.
Mengingatkan kesabaranmu dalam mendidik anak-ankmu. Dengan ditemani kawan derai ombak ini, kuingat kembali kenangan tatkala belajar ketabahan bersamamu. Air mata menetes tak kuasa menahan kelu lidah dan dekapan perasaan penuh rindu.
Bapak, kasih sayang dan cintamu telah menghantarkan anakmu belajar nun jauh. Begitu jauh, hingga wajahmu tak sanggup kubayangkan di ujung laut sana. Kerinduan akan senyuman dan dekapanmu begitu mencekam. Hingga selalu terbayang dermaga ini merupakan jalan pulang menuju kampung halaman.
Ini hanyalah sekilas kisah kecil dalam diri saya. Sekilas kisah tentang perjalanan belajar yang begitu bermakna. Mengandung sayatan-sayatan arti kehidupan tentang cinta dan kasih sayang seorang bapak. Ketabahan dan kesabaran yang bapak miliki, menghantarkan anak-anaknya untuk terus belajar dalam keterbatasan yang menghimpit.
Tepi bibir pantai ini menjadi saksi bisu, akan curahan perasaan nan pilu. Kenangan muncul silih berganti dalam mengingat perjalanan masa kecil dulu. Bapak, engkau bagaikan kolase dalam hidup saya. Bermacam hambatan dan cobaan dalam hidup. Engkau jadikan makna sebagai pengganti proses belajar. Engkau selalu menanamkan pendidikan dalam setiap sendi kehidupan. Tidak hanya kecerdasan dalam berpikir, namun ketajaman menggunakan hati dalam menghargai orang lain.
Teringat tatkala engkau pertama kali menghantarkan saya untuk masuk ke sekolah. satu demi satu sekolah tiada yang menerima karena keterbatasan dalam diri saya. Namun kegigihan membuat engkau terus berjalan, berkilometer terus engkau telusuri, demi untuk membuka sedikit demi sedikit pintu harapan masa depan.
Masa depan yang entah tak tahu bagaimana putra keduamu mempertanggungjawabkan. Bapak selalu mengatakan bahwa kita merupakan keluarga yang sedehana. Berbeda dengan kebanyakan tetangga kita yang serba kecukupan. Masih membekas dalam ingatan. Ketika dalam keheningan sholat isya, bapak digiring keluar dari surau peribadatan. Putramu menangis melihat ayah difitnah dan dilecehkan. Mengapa bapak waktu itu melarang putramu marah untuk memukuli mereka. Mengapa bapak menahan putramu yang tak tertahankan dalam linangan air mata. Bapak memang selalu mengajarkan tentang sikap rendah hati, menghargai dan menyayangi orang lain sekalipun kita harus diselimuti kehinaan dan cacian oleh mereka. Namun tidak sepantasnya bapak mendapat perlakukan seperti ini.


. . . . . .
Bapak engkau telah mengirim putramu untuk berlayar dan beradu dengan asa. Sedangkan di sisi lain engkau mempertaruhkan jiwa dan raga dalam membiayai putramu. Tak lekang oleh waktu dan tak terbayang betapa letih dirimu. Engkau merelakan tubuhmu lelah untuk mengajarkan tunas-tunas bangsa.
Bapak semangatmu tidak akan pernah padam, walaupun dengan napas tersengal. Engkau tetap melangkah dan mengajar dalam serdadu perjuangan untuk mencerdaskan bangsa. Cinta dan pengorbanan meruntuhkan keletihan dalam dirimu. Air matamu menjadi penyubur akan masa depan buah hatimu. Terkadang engkau tetap belum bisa bernapas lega, ketika semua orang telah tenggelam dalam selimut kehangatan. Dengan ditemani angin malam, engkau tetap bekerja dengan laptop satu-satunya kepunyaanmu, walaupun ukiran penderitaan terpahat dalam bahumu. Begitu pula matamu yang terlihat sayu dan lesu.
Kaki putramu bergetar bapak, air mata ikut menagis melihat pengorbanan bapak. Hati terasa terbungkus, membuat lidah dan tenggorokan seakan di cekal oleh bisu. Tak mampu mengatakan bahwa putramu kini berada di hadapanmu bapak. Ketika bapak memalingkan wajah melihat diri saya. Sejenak wajah bapak terharu. Tak percaya melihat sandiwara kehidupan dalam diri ayah.
Dengan napas tersengal saya berlari dan memeluk tubuh bapak. Hingga dunia pun menagis terharu dalam sandiwara perjumapaan itu. Dalam hati pun terucap, “Terima kasih bapak, kasih sayang dan cintamu mengokohkan langkah perjalanan hidup saya. Ketabahan dan kesabaran dirimu bukan lagi menjadi inspirasi dalam diri saya. Tetapi menjadi inspirasi dari setiap inspirasi yang terpahat dalam jejak masa lalu. Luka dan dukamu akan segera terkikis oleh lentera. Lentera yang bapak jaga dengan air mata cinta dan juga kasih sayang.

. . . . . .

Ibu
Saya adalah mahasiswa baru yang baru setahun masuk dan sekarang lagi ada Ujian Semester. Sya yang selalu hidup bersantai santai dan mulai jarang pulang ke rumah bermain dengan teman sampai tak kenal waktu sehingga membuat ibu selalu cemas dan khawatir. Hidup saya saat ini sungguh seperti anak muda jaman sekarang banget. Ibu hanya dianggap sepele seperti pembantu saja. Berangkat kuliah pulang malam, hari libur tidak ada di rumah kelayapan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Yah begitulah…

You May Also Like

0 komentar