• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

Search This Blog

Pages

  • Beranda
  • Beranda
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Deskripsi Tentangnya.


Jakarta
“Selamat pagi, indah sekali ya hari ini, sepertinya secangkir kopi dan septong roti enak untuk di nikmati bersama tetesan air bekas hujan semalam. Gimana ? enakkan, apalagi kalau di temani wanita sepertimu” canda saya kepada seorang wanita yang mungkin belum saatnya saya tuliskan di awal cerita ini.
          
          Di pagi itu saya terduduk di sebuah kursi tua berwarna coklat yang baru saja di vernish ulang dengan secangkir kopi dan sepotong roti di meja, lantunan nyanyian burung seakan menjadi petikkan gitar yang tiap pagi dimainkan oleh jemari Tuhan sang pencipta fajar dan mentari yang saling menatap satu sama lain. Saya adalah lelaki bau keringat yang selalu ingin berpetualangan kemanapun mata ini menatap dan kaki masih sanggup berjalan, ya mungkin alam adalah kesukaan saya, terlebih gunung, ya gunung yang dimana jutaan manusia tertuju kepada satu nama yaitu puncak. Puncak adalah tempat paling sunyi dan dahsyat yang dimana orang diam-diam saling mendoakan.
          Entah apa yang membuat saya begitu mencintai gunung, saya juga tidak tahu, yang saya tahu hanya butuh uang banyak, perlengkapan yang cukup, tas yang besar untuk sekali pendakian, belum lagi perjalanan yang merepotkan, fisik yang terkuras akibat kelelahan sampai akhirnya dingin yang menusut sampai ke tulang, ah sial, menyakitkan namun menyenangkan. Sesal saya sembari tersenyum.

. . . . . .

Kala itu pukul empat subuh, gemuruh suara manusia malam yang sudah mengakhiri aktivitasnya membangunkan saya dari tidur nyenyak. Sebal, saya tidak pernah terbangun sepagi itu, kesal saya dalam hati. Tidak apalah lagi pula saya memang ingin pergi ke kampus saat itu, ya wajar saja kehidupan sebagai seorang mahasiswa dengan jarak rumah dan kampus yang begitu jauh. Tidak lama dari kesal saya tadi, suara adzan subuh dari sebrang jalan seakan menghipnotis raga untuk sekiranya bersujud kepada Tuhan sembari mengucap syukur masih adanya sebuah kehidupan yang harus kembali di jalankan sebagai seorang makhluk hidup yang bernama manusia.
          “Bangun, sudah subuh” teriak wanita tua di depan pintu kamar.
          “iya, sudah bangun daritadi” jawab saya halus.
          Melawan malas, saya memaksa raga untuk bangun dari kasur yang empuk dan nyaman, memaksa hati untuk saling bersinergi dengan otak, walau rasa kantuk yang ingin membunuh saya secara perlahan. Saya kalungkan handuk merah muda bergambar bunga di leher, saya ambil gayung untuk membersihkan tubuh dari sisah jahil semalam, wajar saja anak muda ibu kota, dan terlebih seorang mahasiswa penyiaran yang memaksa otak selalu berfikir kreatif dan sepasang kaki yang selalu menyetir diri.
          “mandinya cepat, kasihan Adik ingin sekolah” teriak perempuan tua dari balik kamar mandi.
          Iya, sedang handukan” jawab saya halus, sembari membersihkan sisah bekas sabun di wajah.
          Tercium aroma yang membawa nafsu makan saya pagi ini. Sedap sekali, wanita tua itu masak apa pagi ini ? tanya saya dalam hati. Asap halus kembali menyapa indra penciuman saya, tahan sejenak saya ingin siap-siap dulu untuk memakai baju dan sembahyang. Selesai melakukan sembahyang saatnya kini memanjakan si perut ini dengan hidangan yang di buatkan oleh perempuan tua itu, ada sepotong paha ayam dan nasi hangat, serta teh tubruk yang asapnya mengepul seakan menambah nafsu saya pagi ini, ah nikmatnya.
          “saya berangkat dulu ya” ujarku kepada perempuan tua itu.
          “iya hati-hati” jawabnya sembari senyum halus, yang membuat hati dan raga pulih dari sisah aktifitas kemarin.
          Seperti biasa, memanasi mesin motor, membuat playlist lagu yang asyik untuk menemani perjalanan dan membersihkan helm yang berdebu adalah rutinitas saya, sebab, musik adalah jam yang tidak terlihat namun bisa di analisis, apakah saya telat atau tidak. Pokoknya jika sepuluh lagu tidak habis maka saya berangkat terlalu pagi, jika melebihi dari sepuluh lagu maka saya dapat dinyatakan telat.
.  .  .  .  .
          Antara kuliah dan organisasi adalah sebuah problematik seorang mahasiswa, antara memikirkan akademik adalah sebuah alasan klasik dalam berorganisasi, ya padahal saya mengetahui sejatinya organisasi adalah sekelumit ilmu yang di dapat selain dari bangku yang dinamakan bangku kaum intelektual.
          Namun ketidakmampuan diri untuk selalu memprioritaskan keduanya sangatlah sukar, terlebih tekanan  tugas dari para dosen dan padatnya kegiatan lain di luar kampus yang memaksa diri ini untuk tetap tegap melihat keadaan.
          Pada tiba saatnya warung kopi adalah obat dari segala penat saya, mungkin. Perpaduan kopi hitam dan sebatang rokok sepertinya nikmat di seruput dan di hisap di bawah atap yang di atasnya berputar tiga kipas angin lawas, ah nikmatnya, terlebih disini banyak manusia dari berbagai latar belakang berdialog mempersoalkan masalah yang sedang di hadapi, mulai dari tugas kuliah, polik keparat, sampai masalah hati. Orang menyebutnya warkop aa, ya karena mungkin yang punya adalah orang Sunda.
          Mungkin di sinilah awal sebuah perjalanan saya, yang saya tulis dalam sebuah buku dengan kesederhanaan , tapi dibuatnya dengan banyak pengalaman yang saya dapatkan dari semua orang yang dekat dengan saya. Nikmatilah dan berkhayalah seakan Anda bagian dari diri saya.
. . . . . .
“Cinta adalah suatu cahaya magis yang bersinar dari kedalaman perasaan manusia dan menyinari sekelilingnya. Engkau lihat dunia sebagai perjalanan menuju taman hijau, hidup seperti mimpi yang menyenangkan, ditegakkan di antara kesadaran”.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Siapakah saya ?
Siapa saya ? sebuah pertanyaan yang sukar sepertinya untuk  dideskripsikan lebih jelas, karena menurut saya hanya orang-orang terdekat saya lah yang lebih tahu siapa saya, dan bagaimana sifat dan perilaku saya.
Tapi setiap orang harus mengenal dirinya sendiri  untuk menentukan arah hidupnya atau sekedar introspeksi diri atas kekurangan-kekurangannya. Untuk itu saya akan coba menggambarkan tentang diri saya.
Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama Saya Rangga. Orang banyak mengenal saya sebagai penulis di instagram, editor, sutradara dan lelaki kumal yang sedang mencari jati diri, mau kemanakah saya setelah ini, ingin pergi kemanapun saya mau atau tetap berada dalam terangnya lampu ibu kota. Saya adalah seorang  anak kedua dari empat bersaudara, namun sepeninggal  kakak, saya harus menjadi seorang anak yang terbaik untuk kedua adik saya.
Saya lahir di Jakarta, 10 November 1999, di kota ini Ayah saya merantau dari barat Jawa, yaitu Cirebon, ayah saya bekerja sebagai seorang guru di salah satu SMP di Jakarta, yang akhirnya bertemu wanita yang saat itu sebagai salah satu muridnya waktu sekolah, menunggu hingga lulus dari SMP, dan SMA ayah saya sangatlah melindungi wanita yang di cinta, sampai akhirnya pernikahan usai di laksanakan .



. . . . .


Berbicara soal Pendidikan saya telah menyelesaikan pendidikan pada umumnya yaitu satu tahun di Taman Kanak-kanak, 6 tahun di Sekolah Dasar, 3 tahun di Sekolah Menengah Pertama, 3 tahun di Sekolah Menengah Atas, dan saat ini saya tercatat sebagai  mahasiswa semester 2 Jurusan Broadcasting di Universitas Mercu Buana, Jakarta.

Cita-cita, Hobi, dan Sifat
Cita-cita masa kecil saya ialah ingin menjadi seorang pengusaha atau pria karir dan cita-cita itu masih berlaku sampai sekarang, saya ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses yang bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk orang lain, dan saya berkeinginan untuk menjadi seorang pria yang tidak hanya mengurus dunia saya sebagai seorang penyiaran, seperti film, televisi, radio, juralistik dan lain sebaginya, saya ingin mempunyai karir yang baik nantinya. Itulah cita-cita saya yang saat ini saya sedang perjuangkan dengan menuntut ilmu agar berguna kelak untuk cita-cita saya.
Saya adalah seseorang yang tidak mempunyai hobi yang spesifik, hampir semua hal saya sukai dari mendengarkan musik, menonton tv atau film di bioskop atau laptop, bermain game, membaca buku (hanya untuk jenis novel dan komik), jalan-jalan atau traveling bersama teman-teman ke suatu tempat favorit ataupun tempat yang baru, atau sekedar kumpul-kumpul bersama teman.
Untuk sifat, menurut saya, saya itu baik, mandiri, dan penyabar. Baik disini dalam arti suka membantu teman yang butuh bantuan selagi saya mampu untuk membantunya. Namun, kadang baiknya kita seringkali disalahkan gunakan atau dimanfaatkan oleh orang lain tapi saya percaya akan sebuah kalimat “apa yang kau tanam itulah yang kau tuai” jadi apa yang kita perbuat itulah yang yang nantinya akan kita dapatkan.
Mandiri, mandiri disini bukan berarti saya telah bisa membiayai kehidupan sehari-hari saya sendiri, kemandirian saya belum sampai tahap itu, tetapi yang saya maksud saya anak yang cukup kuat untuk hidup jauh dari orang tua dengan jarangnya balik kerumah lantaran kesibukan sebagai seorang yang beranjak dewasa, saya juga selalu mengurus kebutuhan saya sendiri tidak melulu minta bantuan orang tua. Saya juga bisa dibilang pemberani untuk pergi-pergi ke suatu tempat baru sendiri.
Sabar, bisa dibilang saya orang yang cukup sabar, sabar dalam menghadapi permasalahan, sabar dalam menjalankan kehidupan yang tak selalu sama seperti apa yang kita harapkan, begitupun sabar dalam sebuah penantian.

Sifat negatif dari saya yaitu saya adalah orang yang pesimis, pemalas, teledor, terkadang keras kepala dan pelupa.
Saya adalah orang yang sangat pesimis dalam melakukan segala hal, saya selalu merasa tidak yakin akan kemampuan yang saya miliki juga tidak percaya diri, saya juga kurang berani mengambil resiko dan mudah putus asa setiap menghadapi rintangan karena saya merasa takut akan kegagalan.
Saya bisa dibilang cukup pemalas karena saya selalu menunda-nunda pekerjaan atau tugas, tapi kemalasan saya masih dalam batas wajar, terkadang saya bisa juga rajin seperti orang-orang tetapi hanya kadang-kadang.
Teledor, ceroboh, pelupa itulah kebiasaan buruk  yang melekat pada diri saya, saya sering sekali melakukan tindakan-tindakan yang ceroboh yang terkadang memalukan, saya juga merupakan orang yang sangat teledor dan pelupa saat meletakkan suatu barang, saya juga sulit untuk menghafal jalan dalam sekali perjalanan, butuh 2 kali atau lebih untuk benar-benar hafal.
Saya memang bukan orang yang mudah bergaul, mungkin untuk yang baru mengenal saya orang akan berpikiran saya pendiam, tetapi jika sudah kenal dekat saya bisa dibilang cukup cerewet.
Yaa itulah serangkaian kekurangan atau sifat negatif yang saya miliki, saya sangat sadar akan kekurangan itu makanya saya agak sulit menerima kritikan orang. Kekurangan saya tersebut bisa jadi bahan introspeksi diri agar lebih baik kedepannya. Sekian cerita tentang diri saya yang saya tulis dari sudut pandang saya sendiri dan opini teman.

          
. . . . . .
          Kilas balik mengingat segelintir cerita dapat membuat diri ini saling berkaca, apakah kita sudah baik dari sebelumnya ataukah malah memperkeruh diri kepada suasana. Kembali mengingat masalalu bukanlah hal yang buruk, melainkan suatu kebajikan untuk melihat apa kurangnya diri kita pada saat itu. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk kalian ketahui apa sebab muhasabab saya menuliskan ini, sebab ini adalah ajang untuk saling mengaca, menatap dengan hati kosong sembari berbisik
“apakah saya sudah baik ?”
          Jika iya, maka lanjutkan apa yang menjadi prioritas, jika belum rehatlah sejenak sembari membenarkan suatu keadaan yang suram, sebelum saatnya lampu hijau menyuruh kalian untuk berjalan lebih jauh kedepan.

Coba deh kalian sejenak berpikir banyak hal yang belum kita ketahui, tetapi memori ini sudah hampir penuh. Apakah tujuan manusia hanya untuk mempelajari dunia saja ? Tapi… dunia ini pun fana sekejap datang sekejap pergi. Banyak yang baru muncul lebih banyak juga yang hancur. Apakah ada usaha di dunia yang kekal ? Semua hanya tentang kuasa dan pengakuan. Lalu kalau hanya untuk itu mungkinkah saya salah masuk ke dunia ini ? Atau saya sendiri yang tidak membiasakan diri dengan semuanya?
Saya rasa saya telah sama dengan yang lain, saya rasa sejak saya dilahirkan tidak ada yang spesial di dalam diri ini. Saya pun berusaha berpikir untuk menyamakan diri ini dengan dunia. Saya pun berusaha berperilaku seperti dunia. Keras saya berusaha untuk menjadi kaya, keras usaha saya untuk selalu bersenang-senang. Awalnya saya mulai menikmati, saya rasa sekarang saya telah sama dengan yang lain. tidak buruk juga tidak membosankan.
Hari demi hari saya mulai di bawa melupakan semua pertanyaan saya tentang dunia. Waktu demi waktu dunia ini membwa saya pergi ke surganya. Sedikit demi sedikit harta saya timbun, kuasa pun datang kepada saya, orang-orang yang meremehkan saya pun saya kalahkan. Hahaha saya telah benar-benar lupa tentang pertanyaan saya barusan. Saya bermandikan kekuasaan, saya di manjakan kehebatan. Saya yang dulu pemurung kini menjadi manusia pesta. Keberhasilan saya meniru dunia bahkan telah membawa saya memimpin dunia.
Keingintahuan saya membawa saya lebih mencintai dunia ini. Apa saja yang saya mau sepertinya datang dengan sendirinya. Seolah saya menyesal kenapa tidak dari dulu saya seperti ini. Lawan - lawan saya pun saya habisi semua, tunduk di bawah kaki ini memohon ampun kepada saya. Setiap hari saya tertawa riang meratapi nasib orang yang dulu mencaci saya. Kesombongan menutupi memori masa bodoh saya dahulu.

. . . . . .
“Kilas balik tidak melulu tentang rasa euforia cinta yang dulu merekah dalam hati atau menceritakan sebuah masalalu. Melainkan tempat interaksi intim antara hati dan pikiran”
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Ayah
            Saya tuliskan beberapa halaman kisah yang penuh makna. Merupakan sandiwara dalam akhir sayonara kehidupan terhadap kasih sayang yang tidak akan pudar sepanjang masa. Bapak di balik tirai senja ini, izinkanlah putra keduamu mengenang masa lalu. Mengenang dengan iringan kerinduan yang semakin bertalu. Semakin merindu ketika gerombolan burung camar dalam perjalanan pulang ke sarang.
Mengingatkan kesabaranmu dalam mendidik anak-ankmu. Dengan ditemani kawan derai ombak ini, kuingat kembali kenangan tatkala belajar ketabahan bersamamu. Air mata menetes tak kuasa menahan kelu lidah dan dekapan perasaan penuh rindu.
Bapak, kasih sayang dan cintamu telah menghantarkan anakmu belajar nun jauh. Begitu jauh, hingga wajahmu tak sanggup kubayangkan di ujung laut sana. Kerinduan akan senyuman dan dekapanmu begitu mencekam. Hingga selalu terbayang dermaga ini merupakan jalan pulang menuju kampung halaman.
Ini hanyalah sekilas kisah kecil dalam diri saya. Sekilas kisah tentang perjalanan belajar yang begitu bermakna. Mengandung sayatan-sayatan arti kehidupan tentang cinta dan kasih sayang seorang bapak. Ketabahan dan kesabaran yang bapak miliki, menghantarkan anak-anaknya untuk terus belajar dalam keterbatasan yang menghimpit.
Tepi bibir pantai ini menjadi saksi bisu, akan curahan perasaan nan pilu. Kenangan muncul silih berganti dalam mengingat perjalanan masa kecil dulu. Bapak, engkau bagaikan kolase dalam hidup saya. Bermacam hambatan dan cobaan dalam hidup. Engkau jadikan makna sebagai pengganti proses belajar. Engkau selalu menanamkan pendidikan dalam setiap sendi kehidupan. Tidak hanya kecerdasan dalam berpikir, namun ketajaman menggunakan hati dalam menghargai orang lain.
Teringat tatkala engkau pertama kali menghantarkan saya untuk masuk ke sekolah. satu demi satu sekolah tiada yang menerima karena keterbatasan dalam diri saya. Namun kegigihan membuat engkau terus berjalan, berkilometer terus engkau telusuri, demi untuk membuka sedikit demi sedikit pintu harapan masa depan.
Masa depan yang entah tak tahu bagaimana putra keduamu mempertanggungjawabkan. Bapak selalu mengatakan bahwa kita merupakan keluarga yang sedehana. Berbeda dengan kebanyakan tetangga kita yang serba kecukupan. Masih membekas dalam ingatan. Ketika dalam keheningan sholat isya, bapak digiring keluar dari surau peribadatan. Putramu menangis melihat ayah difitnah dan dilecehkan. Mengapa bapak waktu itu melarang putramu marah untuk memukuli mereka. Mengapa bapak menahan putramu yang tak tertahankan dalam linangan air mata. Bapak memang selalu mengajarkan tentang sikap rendah hati, menghargai dan menyayangi orang lain sekalipun kita harus diselimuti kehinaan dan cacian oleh mereka. Namun tidak sepantasnya bapak mendapat perlakukan seperti ini.


. . . . . .
Bapak engkau telah mengirim putramu untuk berlayar dan beradu dengan asa. Sedangkan di sisi lain engkau mempertaruhkan jiwa dan raga dalam membiayai putramu. Tak lekang oleh waktu dan tak terbayang betapa letih dirimu. Engkau merelakan tubuhmu lelah untuk mengajarkan tunas-tunas bangsa.
Bapak semangatmu tidak akan pernah padam, walaupun dengan napas tersengal. Engkau tetap melangkah dan mengajar dalam serdadu perjuangan untuk mencerdaskan bangsa. Cinta dan pengorbanan meruntuhkan keletihan dalam dirimu. Air matamu menjadi penyubur akan masa depan buah hatimu. Terkadang engkau tetap belum bisa bernapas lega, ketika semua orang telah tenggelam dalam selimut kehangatan. Dengan ditemani angin malam, engkau tetap bekerja dengan laptop satu-satunya kepunyaanmu, walaupun ukiran penderitaan terpahat dalam bahumu. Begitu pula matamu yang terlihat sayu dan lesu.
Kaki putramu bergetar bapak, air mata ikut menagis melihat pengorbanan bapak. Hati terasa terbungkus, membuat lidah dan tenggorokan seakan di cekal oleh bisu. Tak mampu mengatakan bahwa putramu kini berada di hadapanmu bapak. Ketika bapak memalingkan wajah melihat diri saya. Sejenak wajah bapak terharu. Tak percaya melihat sandiwara kehidupan dalam diri ayah.
Dengan napas tersengal saya berlari dan memeluk tubuh bapak. Hingga dunia pun menagis terharu dalam sandiwara perjumapaan itu. Dalam hati pun terucap, “Terima kasih bapak, kasih sayang dan cintamu mengokohkan langkah perjalanan hidup saya. Ketabahan dan kesabaran dirimu bukan lagi menjadi inspirasi dalam diri saya. Tetapi menjadi inspirasi dari setiap inspirasi yang terpahat dalam jejak masa lalu. Luka dan dukamu akan segera terkikis oleh lentera. Lentera yang bapak jaga dengan air mata cinta dan juga kasih sayang.

. . . . . .

Ibu
Saya adalah mahasiswa baru yang baru setahun masuk dan sekarang lagi ada Ujian Semester. Sya yang selalu hidup bersantai santai dan mulai jarang pulang ke rumah bermain dengan teman sampai tak kenal waktu sehingga membuat ibu selalu cemas dan khawatir. Hidup saya saat ini sungguh seperti anak muda jaman sekarang banget. Ibu hanya dianggap sepele seperti pembantu saja. Berangkat kuliah pulang malam, hari libur tidak ada di rumah kelayapan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Yah begitulah…

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Agustus 2019 (3)

Created with by ThemeXpose