Prolog.

by - Agustus 28, 2019


Jakarta
Selamat pagi, indah sekali ya hari ini, sepertinya secangkir kopi dan septong roti enak untuk di nikmati bersama tetesan air bekas hujan semalam. Gimana ? enakkan, apalagi kalau di temani wanita sepertimu” canda saya kepada seorang wanita yang mungkin belum saatnya saya tuliskan di awal cerita ini.
          
          Di pagi itu saya terduduk di sebuah kursi tua berwarna coklat yang baru saja di vernish ulang dengan secangkir kopi dan sepotong roti di meja, lantunan nyanyian burung seakan menjadi petikkan gitar yang tiap pagi dimainkan oleh jemari Tuhan sang pencipta fajar dan mentari yang saling menatap satu sama lain. Saya adalah lelaki bau keringat yang selalu ingin berpetualangan kemanapun mata ini menatap dan kaki masih sanggup berjalan, ya mungkin alam adalah kesukaan saya, terlebih gunung, ya gunung yang dimana jutaan manusia tertuju kepada satu nama yaitu puncak. Puncak adalah tempat paling sunyi dan dahsyat yang dimana orang diam-diam saling mendoakan.
          Entah apa yang membuat saya begitu mencintai gunung, saya juga tidak tahu, yang saya tahu hanya butuh uang banyak, perlengkapan yang cukup, tas yang besar untuk sekali pendakian, belum lagi perjalanan yang merepotkan, fisik yang terkuras akibat kelelahan sampai akhirnya dingin yang menusut sampai ke tulang, ah sial, menyakitkan namun menyenangkan. Sesal saya sembari tersenyum.

. . . . . .

Kala itu pukul empat subuh, gemuruh suara manusia malam yang sudah mengakhiri aktivitasnya membangunkan saya dari tidur nyenyak. Sebal, saya tidak pernah terbangun sepagi itu, kesal saya dalam hati. Tidak apalah lagi pula saya memang ingin pergi ke kampus saat itu, ya wajar saja kehidupan sebagai seorang mahasiswa dengan jarak rumah dan kampus yang begitu jauh. Tidak lama dari kesal saya tadi, suara adzan subuh dari sebrang jalan seakan menghipnotis raga untuk sekiranya bersujud kepada Tuhan sembari mengucap syukur masih adanya sebuah kehidupan yang harus kembali di jalankan sebagai seorang makhluk hidup yang bernama manusia.
          “Bangun, sudah subuh” teriak wanita tua di depan pintu kamar.
          “iya, sudah bangun daritadi” jawab saya halus.
          Melawan malas, saya memaksa raga untuk bangun dari kasur yang empuk dan nyaman, memaksa hati untuk saling bersinergi dengan otak, walau rasa kantuk yang ingin membunuh saya secara perlahan. Saya kalungkan handuk merah muda bergambar bunga di leher, saya ambil gayung untuk membersihkan tubuh dari sisah jahil semalam, wajar saja anak muda ibu kota, dan terlebih seorang mahasiswa penyiaran yang memaksa otak selalu berfikir kreatif dan sepasang kaki yang selalu menyetir diri.
          “mandinya cepat, kasihan Adik ingin sekolah” teriak perempuan tua dari balik kamar mandi.
          Iya, sedang handukan” jawab saya halus, sembari membersihkan sisah bekas sabun di wajah.
          Tercium aroma yang membawa nafsu makan saya pagi ini. Sedap sekali, wanita tua itu masak apa pagi ini ? tanya saya dalam hati. Asap halus kembali menyapa indra penciuman saya, tahan sejenak saya ingin siap-siap dulu untuk memakai baju dan sembahyang. Selesai melakukan sembahyang saatnya kini memanjakan si perut ini dengan hidangan yang di buatkan oleh perempuan tua itu, ada sepotong paha ayam dan nasi hangat, serta teh tubruk yang asapnya mengepul seakan menambah nafsu saya pagi ini, ah nikmatnya.
          “saya berangkat dulu ya” ujarku kepada perempuan tua itu.
          “iya hati-hati” jawabnya sembari senyum halus, yang membuat hati dan raga pulih dari sisah aktifitas kemarin.
          Seperti biasa, memanasi mesin motor, membuat playlist lagu yang asyik untuk menemani perjalanan dan membersihkan helm yang berdebu adalah rutinitas saya, sebab, musik adalah jam yang tidak terlihat namun bisa di analisis, apakah saya telat atau tidak. Pokoknya jika sepuluh lagu tidak habis maka saya berangkat terlalu pagi, jika melebihi dari sepuluh lagu maka saya dapat dinyatakan telat.
.  .  .  .  .
          Antara kuliah dan organisasi adalah sebuah problematik seorang mahasiswa, antara memikirkan akademik adalah sebuah alasan klasik dalam berorganisasi, ya padahal saya mengetahui sejatinya organisasi adalah sekelumit ilmu yang di dapat selain dari bangku yang dinamakan bangku kaum intelektual.
          Namun ketidakmampuan diri untuk selalu memprioritaskan keduanya sangatlah sukar, terlebih tekanan  tugas dari para dosen dan padatnya kegiatan lain di luar kampus yang memaksa diri ini untuk tetap tegap melihat keadaan.
          Pada tiba saatnya warung kopi adalah obat dari segala penat saya, mungkin. Perpaduan kopi hitam dan sebatang rokok sepertinya nikmat di seruput dan di hisap di bawah atap yang di atasnya berputar tiga kipas angin lawas, ah nikmatnya, terlebih disini banyak manusia dari berbagai latar belakang berdialog mempersoalkan masalah yang sedang di hadapi, mulai dari tugas kuliah, polik keparat, sampai masalah hati. Orang menyebutnya warkop aa, ya karena mungkin yang punya adalah orang Sunda.
          Mungkin di sinilah awal sebuah perjalanan saya, yang saya tulis dalam sebuah buku dengan kesederhanaan , tapi dibuatnya dengan banyak pengalaman yang saya dapatkan dari semua orang yang dekat dengan saya. Nikmatilah dan berkhayalah seakan Anda bagian dari diri saya.
. . . . . .
“Cinta adalah suatu cahaya magis yang bersinar dari kedalaman perasaan manusia dan menyinari sekelilingnya. Engkau lihat dunia sebagai perjalanan menuju taman hijau, hidup seperti mimpi yang menyenangkan, ditegakkan di antara kesadaran”.

You May Also Like

0 komentar