Prolog.
Jakarta
“Selamat
pagi, indah sekali ya hari ini, sepertinya secangkir kopi dan septong roti enak
untuk di nikmati bersama tetesan air bekas hujan semalam. Gimana ? enakkan,
apalagi kalau di temani wanita sepertimu” canda saya kepada seorang wanita yang
mungkin belum saatnya saya tuliskan di awal cerita ini.
Di pagi itu saya terduduk di sebuah kursi tua berwarna
coklat yang baru saja di vernish ulang dengan secangkir kopi dan sepotong roti
di meja, lantunan nyanyian burung seakan menjadi petikkan gitar yang tiap pagi
dimainkan oleh jemari Tuhan sang pencipta fajar dan mentari yang saling menatap
satu sama lain. Saya adalah lelaki bau keringat yang selalu ingin
berpetualangan kemanapun mata ini menatap dan kaki masih sanggup berjalan, ya
mungkin alam adalah kesukaan saya, terlebih gunung, ya gunung yang dimana
jutaan manusia tertuju kepada satu nama yaitu puncak. Puncak adalah tempat paling sunyi dan dahsyat
yang dimana orang diam-diam saling mendoakan.
Entah
apa yang membuat saya begitu mencintai gunung, saya juga tidak tahu, yang saya
tahu hanya butuh uang banyak, perlengkapan yang cukup, tas yang besar untuk
sekali pendakian, belum lagi perjalanan yang merepotkan, fisik yang terkuras
akibat kelelahan sampai akhirnya dingin yang menusut sampai ke tulang, ah sial,
menyakitkan namun menyenangkan. Sesal saya sembari tersenyum.
. . .
. . .
Kala itu pukul empat subuh, gemuruh suara
manusia malam yang sudah mengakhiri aktivitasnya membangunkan saya dari tidur
nyenyak. Sebal, saya tidak pernah terbangun sepagi itu, kesal saya dalam hati.
Tidak apalah lagi pula saya memang ingin pergi ke kampus saat itu, ya wajar
saja kehidupan sebagai seorang mahasiswa dengan jarak rumah dan kampus yang
begitu jauh. Tidak lama dari kesal saya tadi, suara adzan subuh dari sebrang
jalan seakan menghipnotis raga untuk sekiranya bersujud kepada Tuhan sembari
mengucap syukur masih adanya sebuah kehidupan yang harus kembali di jalankan
sebagai seorang makhluk hidup yang bernama manusia.
“Bangun,
sudah subuh” teriak wanita tua di depan pintu kamar.
“iya,
sudah bangun daritadi” jawab saya halus.
Melawan
malas, saya memaksa raga untuk bangun dari kasur yang empuk dan nyaman, memaksa
hati untuk saling bersinergi dengan otak, walau rasa kantuk yang ingin membunuh
saya secara perlahan. Saya kalungkan handuk merah muda bergambar bunga di leher,
saya ambil gayung untuk membersihkan tubuh dari sisah jahil semalam, wajar saja
anak muda ibu kota, dan terlebih seorang mahasiswa penyiaran yang memaksa otak
selalu berfikir kreatif dan sepasang kaki yang selalu menyetir diri.
“mandinya
cepat, kasihan Adik ingin sekolah” teriak perempuan tua dari balik kamar mandi.
Iya,
sedang handukan” jawab saya halus, sembari membersihkan sisah bekas sabun di wajah.
Tercium
aroma yang membawa nafsu makan saya pagi ini. Sedap sekali, wanita tua itu
masak apa pagi ini ? tanya saya dalam hati. Asap halus kembali menyapa indra
penciuman saya, tahan sejenak saya ingin siap-siap dulu untuk memakai baju dan
sembahyang. Selesai melakukan sembahyang saatnya kini memanjakan si perut ini
dengan hidangan yang di buatkan oleh perempuan tua itu, ada sepotong paha ayam
dan nasi hangat, serta teh tubruk yang asapnya mengepul seakan menambah nafsu
saya pagi ini, ah nikmatnya.
“saya
berangkat dulu ya” ujarku kepada perempuan tua itu.
“iya
hati-hati” jawabnya sembari senyum halus, yang membuat hati dan raga pulih dari
sisah aktifitas kemarin.
Seperti
biasa, memanasi mesin motor, membuat playlist lagu yang asyik untuk menemani
perjalanan dan membersihkan helm yang berdebu adalah rutinitas saya, sebab,
musik adalah jam yang tidak terlihat namun bisa di analisis, apakah saya telat
atau tidak. Pokoknya jika sepuluh lagu tidak habis maka saya berangkat terlalu
pagi, jika melebihi dari sepuluh lagu maka saya dapat dinyatakan telat.
. . .
. .
Antara kuliah dan organisasi adalah sebuah problematik
seorang mahasiswa, antara memikirkan akademik adalah sebuah alasan klasik dalam
berorganisasi, ya padahal saya mengetahui sejatinya organisasi adalah sekelumit
ilmu yang di dapat selain dari bangku yang dinamakan bangku kaum intelektual.
Namun
ketidakmampuan diri untuk selalu memprioritaskan keduanya sangatlah sukar,
terlebih tekanan tugas dari para dosen
dan padatnya kegiatan lain di luar kampus yang memaksa diri ini untuk tetap
tegap melihat keadaan.
Pada
tiba saatnya warung kopi adalah obat dari segala penat saya, mungkin. Perpaduan
kopi hitam dan sebatang rokok sepertinya nikmat di seruput dan di hisap di
bawah atap yang di atasnya berputar tiga kipas angin lawas, ah nikmatnya,
terlebih disini banyak manusia dari berbagai latar belakang berdialog
mempersoalkan masalah yang sedang di hadapi, mulai dari tugas kuliah, polik keparat,
sampai masalah hati. Orang menyebutnya warkop aa, ya karena mungkin yang punya
adalah orang Sunda.
Mungkin
di sinilah awal sebuah perjalanan saya, yang saya tulis dalam sebuah buku
dengan kesederhanaan , tapi dibuatnya dengan banyak pengalaman yang saya
dapatkan dari semua orang yang dekat dengan saya. Nikmatilah dan berkhayalah
seakan Anda bagian dari diri saya.
. . .
. . .
“Cinta
adalah suatu cahaya magis yang bersinar dari kedalaman perasaan manusia dan
menyinari sekelilingnya. Engkau lihat dunia sebagai perjalanan menuju taman
hijau, hidup seperti mimpi yang menyenangkan, ditegakkan di antara kesadaran”.

0 komentar